“Ini Kisah Tiga Dara” : Sebuah Pergerakan Feminisme Perempuan Indonesia

這篇文章打動您了嗎?按下小樹苗,單篇贊助這篇文章:)

Penulis: Frank Yeh (Ye Yi-wei)
Penerjemah: Linda

Pada tahun 2016 lalu, saya berkunjung ke Indonesia, Lampung tepatnya. Saat itu bertepatan dengan saat Ramadhan dan Idul Fitri (Lebaran). Ketika berkumpul dengan teman-teman lainnya setelah Shalat Ied, seseorang bertanya pada saya: “Apa agamamu?” “Sudah menikahkah?” Umumnya saya akan menjawab, saya tidak punya agama, namun dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia, jika saya menjawab seperti itu, pasti mereka akan memandang saya dengan heran, karenanya teman di samping saya menyinggung lengan saya untuk membantu menjawab : “Konfusianisme (Kong Hu Cu).”

Dalam pelayanan sipil masyarakat Indonesia, Anda harus mengindikasikan agama dan kepercayaan Anda, yaitu “Buddhisme, Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Konfusianisme atau Kong Hu Cu,” 6 ajaran agama resmi di Indonesia. Sumatera Utara, tepatnya Aceh sendiri memiliki hukum Syaria yang ketat. Perempuan yang hendak keluar rumah harus mengenakan hijab (menutup aurat). Dalam keluarga, ada sistem patriarki dan matriarki. Namun saat ini karena imbas globalisasi, perempuan setahap demi setahap mulai memperjuangkan kesetaraan dengan para lelaki.

Film “Ini Kisah Tiga Dara” (Three Sassy Sisters) merupakan hasil besutan sutradara perempuan Indonesia, Nia Dinata. Film dengan gaya musikal Bollywood ini memperlihatkan suasana yang sangat hidup, dengan penekanan keagamaan, perbedaan etnis dan ras, dengan Maumere sebagai sebagai pusat kotanya, sebuah kota dengan mayoritas penduduk pemeluk agama Katolik, menjelajah kehidupan perempuan modern saat ini dalam menghadapi tradisionalitas keluarga dengan perempuan sebagai kepala rumah tangganya.

Nia Dinata merupakan seorang sutradara yang menjadi minoritas dalam mengangkat persoalan sosial masyarakat kota di Indonesia. Filmnya di tahun 2003 yang berjudul “Arisan!” (The Gathering) menyentuh isu homoseksual yang sangat sensitif di Indonesia. Film yang berbudget rendah ini sendiri mendapatkan sambutan luar biasa dan menarik lebih dari 500.000 penonton. Selanjutnya, bercermin dari kasus ayahnya yang menikah lagi, Nia pun pada tahun 2006 membuat sebuah film yang membahas poligami berjudul “Berbagi Suami” (Love for Share). Dengan banyaknya sponsor, film ini bahkan dinominasikan dalam penghargaan film bergengsi, Oscar untuk kategori “Film Berbahasa Asing Terbaik” (Best Foreign Language Film).

Nia yang selalu membuat film dengan isu-isu kontroversial sosial masyarakat seringkali mendapatkan teguran, namun ia tetap berani menyatakan: “tidak akan mensensor diri.” Ia sendiri merupakan salah satu sutradara perempuan paling berpengaruh dalam perfilman modern Indonesia.

Selain Nia Dinata, Indonesia tentunya tidak akan pernah melupakan peranan seorang perempuan yang hari lahirnya kini menjadi Hari Nasional, R.A Kartini. Di Taiwan sendiri, setiap tanggal 21 April, area bawah tanah Taipei Main Station dipenuhi teman-teman Indonesia yang mengenakan pakaian tradisional nan cantik, mengikuti kontes peragaan busana dan kecantikan sebagai penghormatan bagi pahlawan perempuan Indonesia, Kartini.

Kartini terlahir di keluarga ningrat (bangsawan) terpelajar, pada tahun 1879, saat jaman pendudukan Belanda. Ketika bersekolah, ia memilih untuk belajar bahasa Belanda, karenanya mendapat akses untuk mempelajari literatur Eropa dan feminisme, serta memiliki banyak teman pena asing. Ketika berumur 12 tahun, berdasarkan tradisi bangsawan dan masyarakat Jawa pada saat itu, maka ia harus dipingit sebelum menikah. Ia tidak diperkenankan keluar rumah, namun ayahnya memperbolehkannya mempelajari sulaman dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan umum.

Saat itu, ia mulai memperjuangkan kebebasan bagi para perempuan, persamaan dalam hukum, melawan praktek poligami, dan mencoba menyingkirkan tradisi bahwa pendidikan dalam keluarga hanya ada di punggung seorang istri dan ibu. Karena keputusan orang tua, Kartini menikah dengan seorang bupati yang telah memiliki 3 istri. Namun, suaminya memberi kebebasan dan mendukung karirnya, membuatnya dapat secara aktif membangun sekolah untuk kaum perempuan. Sayangnya, setelah melahirkan seorang anak, Kartini meninggal dalam usia muda. Ia pun meninggalkan konsep warisannya bagi masyarakat melalui sekolah perempuan yang telah dibangunnya. Sekolah itu sendiri dinamai Sekolah Kartini.

Indonesia di masa kini masih memiliki tradisi tradisional, seperti di Minangkabau, Sumatera Barat. Kebudayaan Minangkabau sendiri dengan populasi etnis 4000.000 orang masih menganut sistem matriarki. Pada tahun 2001, Megawati menjadi presiden Indonesia perempuan pertama setelah perjuangan yang cukup alot dan konflik internal dalam kubu parlementer. Setelah melalui berbagai rintangan panjang, Indonesia secara bertahap mulai menempatkan perempuan pada posisi yang sejajar.

Seorang teman dari Indonesia, mengatakan: “Nia Dinata adalah salah satu sutradara favoritku, Ini Kisah Tiga Dara bergelimang artis terkenal tanah air, seperti Shanty Paredes yang menjadi kakak tertua dan Tara Basro yang merupakan pembawa acara dan artis terkenal. Film ini memiliki kekuatannya dan Anda direkomendasikan untuk menonton film hasil restorasi, remake kedua dari film Indonesia terpopuler di jaman dulu!”