Solo Solitude: Kemanusiaan dalam Era Kegelapan di Indonesia

這篇文章打動您了嗎?按下小樹苗,單篇贊助這篇文章:)

Penulis/Ye-Yiwei
Penerjemah/Linda

Anwar Kongo menuju ke lantai atas, di mana beberapa bagian dindingnya bernodakan darah. Ia mengambil cincin duri keperakan, melingkari leher seorang anggota Partai Komunis, membuat pupil matanya terbuka lebar. Tidak peduli dengan pihak yang menangis tersebut, Anwar tertawa mengejek. Di sela-sela ejekannya, dengan tatapan dingin, cincin tersebut ditekankan membuat darah keluar dan mengalir secara perlahan. Setelah tak ada tanda-tanda kehidupan, Anwar meregangkan tangannya dan membiarkan tubuh tersebut terhempas ke lantai. Mengebaskan pakaian, ia pun kemudian menyalakan rokok dan makan malam seperti biasa tanpa terusik apapun.

Ini adalah salah satu plot film “Jagal” (The Act of Killing) yang menjadi finalis Oscar kategori film dokumenter terbaik. Film ini kini masih dilarang untuk ditayangkan di Indonesia. Film ini mendeskripsikan keadaan di tahun 1965 setelah Presiden Soekarno turun dari jabatannya dan digantikan dengan pemerintahan Soeharto yang haus akan darah para anggota Partai Komunis. Lebih dari 1 juta jiwa kehilangan nyawa mereka, termasuk para kaum intelektual dan keturunan Tionghoa.

Dan kini, “Istirahatlah Kata-kata” (Solo Solitude) yang memiliki latar belakang pemerintahan yang sama, mendeskripsikan emosionalitas kehidupan dalam sebuah pelarian.

Seorang teman mengatakan kepada saya, bahwa pada saat itu, pembangunan tidak sepesat sekarang, berjalan timpang antara kota dan desa terutama di luar Pulau Jawa, listrik sering terputus dan kurang air adalah hal yang lumrah. Kaum minoritas, mereka yang berhaluan berbeda berada dalam kondisi sulit. Tidak berani keluar, menyembunyikan identitas, bahkan harus keluar dari kota dan bersembunyi di pedesaan dengan menyamar.

Sejarah Indonesia, bukankah mirip dengan “Teror Putih” (White Terror) milik Taiwan?

Di masa Perang Dingin, rezim yang mendukung Amerika Serikat menjunjung tinggi anti-komunisme. Pembersihan budaya yang berpotensi ke hal-hal tersebut gencar dilaksanakan, termasuk di Taiwan, Indonesia, dan Filipina. Para politikus yang berkuasa mulai melancarkan serangan terhadap lawan-lawan mereka yang berseberangan, mengontrol buku-buku yang memiliki ideologi berbeda. Di Indonesia ada peristiwa “G30S/PKI”, masa di mana banyak anggota Partai Komunis dan etnis Tionghoa dibantai, membuat evakuasi besar-besaran etnis Tionghoa pada masa itu. Mereka mengutuk berbagai pembunuhan yang terjadi, dan memutuskan tali silaturahmi dengan Indonesia.

Saat ini Indonesia memiliki kebebasan dalam Pemilu Presiden, bahkan Jakarta memiliki gubernur beretnis Tionghoa pertama, yaitu Basuki Tjahaja Purnama. Demi mencapai kesuksesan ini, tidak sedikit pengorbanan yang dilakukan. Kita harus memberikan penghormatan terhadap mereka yang telah berkorban, serta berterima kasih kepada para aktivis yang telah mengkritik pemerintah.

“Jagal” (The Act of Killing) mendeskripsikan para pelaku kejahatan serta mentalitas antek pemerintah. Sedangkan “Istirahatlah Kata-kata” (Solo Solitude) merupakan kilasan perjalanan sosial dalam sebuah perjalanan kehidupan seorang manusia. Keduanya menyatakan diri sebagai pahlawan negeri, kegiatan yang mereka lakukan adalah demi kecintaan akan tanah air mereka, namun apakah perbedaan di antara keduanya?

Anwar, ketika ulasan selesai melihat sendiri sejarah pembantaian anggota komunis yang mereka lakukan. Dengan tangan berlumuran darah, memanggil kembali ketakutan yang ada, rasa bersalah mulai hadir dalam hatinya. Revolusi sosial tampaknya telah berupaya menutup mata orang-orang yang terlibat di dalamnya, membuat mereka kehilangan jati diri kemanusiaannya.

Kini, lebih dari 55 tahun telah berlalu, anti komunis dan anti China masih menghantui hati setiap warga masyarakat Indonesia. Hendaknya sama seperti Taiwan, hanya dengan berani menghadapi sejarah dan meluruskannya, maka pengulangan tragedi tersebut dapat dicegah, sebelum bayang-bayang sejarah itu dihilangkan.