Pesona Karya Seniman Arya Pandjalu di Taiwan, Refleksi Kebudayaan Masyarakat Setempat

這篇文章打動您了嗎?按下小樹苗,單篇贊助這篇文章:)

本文同步刊登於Taiwan KiNi

Artikel & foto / Asuka Lee
Penerjemah / Widy

Arya, seniman asal Indonesia, dengan hasil karyanya “The Shifting of Life”. Hasil karyanya merupakan perpaduan kendaraan roda tiga dengan bahan kayu yang diwujudkan dalam bentuk kapal ikan, rumah, ditambah dengan lukisan tangan, yang mencerminkan keragaman hidup masyarakat setempat. (Sumber Foto: Asuka Lee)

 

Seniman pendatang baru asal Indonesia, Arya Pandjalu, bulan Juli ini menerima undangan dari pemerintah kebudayaan Taiwan ikut serta dalam program “Exploring Taoyuan 2016 Artist-in-Residency”, dimana kali ini Arya akan membuat hasil karyanya di kuil Yongan, distrik Xinwu, Taoyuan. Dalam minggu ini, Arya berhasil menyelesaikan hasil karya seninya yang bertema “The Shifting of Life”. Hasil karyanya ini diwujudkan dalam bentuk kendaraan roda tiga, kapal ikan, rumah, yang memadukan unsur seni suku Hakka dan unsur lain menjadi sebuah hasil karya. Terlebih lagi, pengunjung bisa langsung berkeliling mengendarai kendaraan roda tiga hasil karyanya ini, hasil karya yang bentuknya unik ini terlihat cukup mencolok.

Arya, seniman asal Indonesia.

Arya lahir di Bandung, Jawa Barat. Arya berusia 40 tahun, perawakannya kecil tapi diwajahnya selalu terpancar senyuman. Kali ini adalah kunjungannya ke Taiwan yang ketiga kali, kesan terhadap Taiwan ia gambarkan dengan sebuah kata “besar”. Buah-buahannya besar, hasil tangapan ikannya besar, bahkan porsi makan orang Taiwan juga besar. Tetapi ia juga melontarkan pujian bahwa selama tinggal di lokasi pembuatan hasil karyanya, warga lingkungan sekitar sangat ramah, keamanan lingkungan juga sangat baik, sehingga tetap merasa aman meskipun keluar pada malam hari.

Dalam menciptakan sebuah karya seni, Arya mempunyai konsep tersendiri. Bahwa seni harus dekat dengan kehidupan sekitar, selain itu harus mampu menyampaikan topik-topik tertentu atau mampu bersatu dengan budaya dan adat-istiadat masyarakat lokal, barulah bisa dikatakan sebagai karya seni yang berhasil. Oleh karenanya, dalam tema karya seninya yang terdahulu sering menggunakan unsur burung dan hutan, dengan harapan dapat membangkitkan perhatian masyarakat Indonesia terhadap parahnya masalah kerusakan hutan di Indonesia. Disamping itu, pada kedatangannya ke Yongan kali ini, dari awal sudah berpesan kepada masyarakat setempat :
“Saya harap…bukan karena saya meminta Anda membantu menyelesaikan pekerjaan ini, tapi kita bekerja sama untuk menyelesaikan karya seni ini”. Arya berharap dapat memasukkan unsur budaya lokal dengan hasil karyanya, sehingga hasil karyanya ini dapat mencerminkan budaya daerah setempat.

Arya, seniman asal Indonesia, dengan hasil karyanya “The Shifting of Life”. Hasil karyanya merupakan perpaduan kendaraan roda tiga dengan bahan kayu yang diwujudkan dalam bentuk kapal ikan, rumah, ditambah dengan lukisan tangan, yang mencerminkan keragaman hidup masyarakat setempat. (Sumber Foto: Asuka Lee)

Oleh karena itu, pada awal masa pengerjaan karyanya, Arya menghabiskan banyak waktu bersepeda berkeliling kota Yongan sambil mengambil foto. Dari hasil pengamatannya, daerah lokal merupakan perwujudan dari gabungan masa lama dan baru, tradisional dan modern, ada pabrik berteknologi tinggi, kuil dan budaya Hakka. Oleh karena itu hasil karyanya kali ini mengambil tema “The Shifting of Life”, berharap bisa mencerminkan kehidupan masyarakat wilayah Yongan yang beragam dan berdampingan. Selain itu, Arya juga melihat petani yang sedang berladang, nelayan yang sedang memancing, dan drum khusus milik budaya Hakka. Unsur-unsur inilah yang dimunculkan dalam hasil karya seninya kali ini.

Ketika bahan-bahan pembuatan karya sudah terkumpul, Arya siap memulai mengerjakan hasil karya seninya, masyarakat sekitar juga tergerak langsung membantu Arya. Diantaranya yaitu perusahaan sekitar menyumbangkan bahan-bahan yang dibutuhkan Arya, bahkan perajin kayu sekaligus menjabat sebagai ketua lurah Yongan (Bapak Guo Xian Zhang), akuntan kuil (Ibu Zhang Yue Jiao) yang tangannya terampil, turun langsung membantu Arya dalam pengerjaan karya seni ini. Bahkan selama proses pembuatannya, masyarakat yang antusias datang dan bertanya: “Menurut saya ada suatu unsur yang bisa mewakili daerah kami, boleh ditambahkan tidak?” Arya dengan senang hati menerima usul mereka, karena dengan adanya keterlibatan ide masyarakat setempat, barulah sebuah karya seni dikatakan benar-benar berhasil.

Pada hasil karya dimunculkan potret seorang petani yang dilukis pribadi oleh Arya, sedangkan objek bunga disampingnya merupakan hasil gunting dan tempel oleh masyarakat setempat yang membantu. (Sumber Foto : Asuka Lee)

Setelah hasil karya bertema “The Shifting of Life” selesai, saat ini kendaraan roda tiga sudah mulai dikendarai oleh pihak panitia, beberapa kali mengelilingi jalan-jalan kota daerah sekitar. Untuk selanjutnya, hasil karya Arya ini akan menjadi objek seni dari “Taoyuan Land Art Festival 2016”, dipajang bersama-sama dengan hasil karya seni seniman lain agar dapat disaksikan oleh pengunjung. Setelah Arya meninggalkan Taiwan, hasil karyanya yang bertema “The Shifting of Life” akan tetap disimpan di kuil Yongan. Setiap saat ada festival besar di masyarakat, hasil karya Arya akan dikendarai keluar berkeliling, sebagai alat promosi kebudayaan masyarakat setempat.

Sebelum wawancara berakhir, Arya mengatakan kepada saya bahwa ia bertemu banyak nelayan Indonesia di Taiwan. Teman-teman nelayan ini setiap malam harus tidur di atas kabin kapal yang panas dan sempit. Ketika Arya melihat lebih dekat situasi mereka, sangat menyentuh hatinya dan hamper membuatnya menangis. Apabila di waktu mendatang Arya memiliki kesempatan , ia ingin memasukkan unsur realita kehidupan para buruh migran dalam hasil karya seninya, juga akan mengambil tema buruh migran dalam hasil karyanya, mencerminkan perwujudan ide-ide kreatif perpaduan antara seni dengan kebudayaan lokal.

Arya berfoto bersama di depan kuil Yongan dengan pihak-pihak yang telah membantu selama pengerjaan karya seninya. Ketua lurah Bapak Guo Xian Zhang (nomor satu dari kanan), akuntan kuil Ibu Zhang Yue Jiao (nomor satu dari kiri). (Sumber Foto : Asuka Lee)